daftar baru demi pertemanan

Riuh rendah obrolan ringan dan hentakan bunyi kartu domino membanting nyaring terdengar samar dari seberang rumah, candaan para kepala keluarga di warung rokok memecah keheningan kampung yang angkuh ini, senandung gemertik gitar melantun jadi backsound g yang lagi berantakan, berpikir sebentaran harus berkeluh ttg sesuatu yang g juga ga tw jelas ap maksutnya, sampe handphone g berdendang singkat tanda sms bersilaturahmi, siapakah gerangan’? dy adalah kawan baru, dan dy bertanya sesuatu ttg kabar, dalam hati, g juga menjawab “hei masi ad yang menganggap g terjaga!”, padahal disini g sendiri, gelap2an juga, Cuma ditemenin bunyi angin dari dua kipas yang bergoyang teratur, berirama, dalam satu ruangan.

G berasa kalu g ajah yang lage ga enak hati, ternyata sang kawan jauh lebih memiliki masa yg buruk, masa yang ga enak bgt malem ini, g Cuma anak dengan pengalaman seadaanya, g Cuma laki2 yang ga banyak ilmu, tapi bukan berarti g kga banyak dosa, g ga tau ap2 ttg hidup, karena sejauh ini g ngjalanin semuanya berdasarkan egois, dosa kesombongan dan optimisme yang jaraknya cukup tipis dengan sesuatu yang g paksakan (baca: kebodohan). Lalu apakah g termasuk manusia jaman jahilliyah ’? ga gto juga seh, g emang pendosa dan ga suka menabung, tapi g berhak membela diri kalu g bukan manusia jaman kebodohan, mungkin hanya waktunya ajah yang belum mendukung untuk g jadi manusia yang jauh lebih baik lage.

Balik lage ke atas dmna Cerita temen g bikin g sakit, terlalu menyedihkan sebenernya, dimana “sang masalah” yang dy punya ga bisa dy hindarin baik sebelum dy hadapin ataupun sesudah dy harus hadapin, dy bakalan terus bersama “sang masalah” tadi. Masalah hanyalah masalah, masalah bukan jadi persoalan yg membingungkan harusnya, karena “sang masalah” yang dy punya adalah bagian dari hidup temen g, setengah dari jiwa, pemikiran dan hatinya ad di sana, “sang masalah” marah mungkin karena temen g juga berani membuat, membawa, atau berbagi dengan masalah yang lain, karena sebenernya masalah adalah mutlak dimiliki oleh “sang masalah”. Dan temen g ga punya kapasitas dan kekuasaan yang berlebih untuk membawa masalah yang baru karena dy bukan “sang masalah”. Jibril ga akan mengambil tugas untuk menyampaikan pesan kematian dan mengambil hidup seseorang atas perintah tuhan-Nya, atau izroil ga akan sembrewek meniup sangkakala seolah2 dy bermain seruling layaknya kang kabayan di atas tunggangan gendutnya. Masalah ga akan timbul tanpa sesuatu yang salah di awal, masalah bukan menjadi hambatan, tapi masalah hanyalah bagian dari cobaan, karena kedewasaan bisa terbentuk apabila kita memiliki masalah!

Temen g adalah navigator dalam keluarga, tugas dy hanyalah penentu arah disaat “sang masalah” ud terlalu jauh kesasar, dsaat “sang masalah” terlanjur membuat masalah menjadi semakin panas, temen g yang punya kewajiban mengatur tempratur dimana masalah harusnya tetap menjadi hangat, ga kurang dan ga lebih, ga dikurangkan juga apalage dilebihkan, jangan sampai melebur kegerahan, atau menggigil karena dingin dan hambar. Proses awal mungkin harus bertolak belakang dimana dalam suatu hubungan harus memasuki masa antonim atau saling berlawanan, dimana ad api harus ad yang jadi air. Tapi di saat semuanya makin keruh, justru api kembali di lawan pake bensin, temen g yang harusnya menjaga tempratur supaya ga kepanasan, justru makin membakar keadaan yang ad, mungkin ini yang namanya cobaan, mungkin dari sini kedewasaan bermula, mungkin g kalah tua, tapi dewasa bukan tua, dewasa adalah pilihan, g ga berasa dewasa apalage tua, g hanya berasa sok tau ajah! Kwkwkwkwkw

Di saat hubungan yang ga menguntungkan, mungkin proses transformasi berikutnya adalah menciptakan suatu hubungan untuk bisa saling membutuhkan, bermula dimana dy mencoba memilih dari sekian banyak pilihan yang ad, berarti dy masuk dalam fase perbandingan, tanpa ad perbandingan kita ga bisa menentukan baik dan buruknya, atau jelek dan bagusnya nanti. Mungkin untuk g pribadi, yg g tau Cuma jeleknya ajah, karena sekarang g menambah dosa kesombongan g lagi, karena g terlalu banyak berbicara ttg masalah temen g dengan “sang masalah”nya temen g, sebenernya g ga pantes banyak membahas tentang suatu masalah yang bukan jadi urusan g, karena mau dibawa kemana persoalan mereka g ga bisa ambil bagian, g bukanlah sang navigator penentu arah persoalan mereka, dan g juga bukanlah sang masalah yang bisa dengan gamblang mencerna, membayangkan dan mengira kalu g juga bisa merasakan hal yang sama. Itu masi terlalu jauh, g hanyalah g, g bukan manusia banyak solusi, g mungkin ga bisa bantu memecahkan masalah yang temen g punya, karena g sendiri ga bisa menyelesaikan masalah yg mengendap di sebagian partisi otak dan hati g skrg. Dan juga karena g ga punya apa2 lagi selain mata dan telinga dari hati. g ga bisa kasi sesuatu yang lebih buat temen g, tapi paling ga g masi bisa berjanji kalu g bakal selalu ad buat ngdengerin semua cerita dan keluhan durja ttg hidupnya. G ga bisa ngarang suatu pembayangan ttg seharusnya begini atau seharusnya begto. G Cuma bisa mendengarkan ajah ga lebih! Bukan karena g ga mau, tapi karena g ga bisa!

Sabar yah kawan… (0_o)

One thought on “daftar baru demi pertemanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s