waktuku jarakku anuku kukuku ruyuk!!

hei, masi sibuk berlalu lalang orang berdatang untuk bergegas pergi sembahyang, padahal ini sudah hampir memasuki itungan hari yang tua untuk sholat taraweh, disini g jadi orang yang sekuler, jauh dari agama! ga jauh2 bgt sih, cuma jadi jarang taraweh ajah, karena perbedaan pola hidup yang g punya sekarang bikin g sulit buat menentu waktu, karena waktu masi jadi sesuatu yang labil buat g, antara lawan atau kawan.

waktu,. adalah elemen yang penting sebenernya buat hidup, sebagaimana waktu, yang bisa menentukan kita mau kemana, dan menjadi apa, ntah untuk alesan yang bagaimana, tapi yang jelas, kita selalu bergantung dan berusaha memaksimalkan waktu yang ada.

Kayak sebagian org di rumah ini, atau beberapa pasang kepala org yang berlalu lalang di depan pagar rumah g, mereka hidup demi waktu, mungkin semuanya terlihat biasa ajah, tapi ada sesuatu yang mereka harapkan dari apa yang mereka kerjaan saat itu juga, demi waktu yang lalu, waktu yang kini, atau bahkan waktu yang nanti. Dan mungkin kesebalikan dari g, orang melihat g mungkin biasa2 ajah, lelaki hitam tanggung, dekil keling, gondrong beranak, dan rajin buang sampah di tempatnya. karena antara g dan mereka sama, melihat hidup berdasarkan waktu, dan berlandaskan alasan yang mereka punya demi pribadi masing2, padahal di dalam hati g, g sangat berjuang untuk memaksimalkan waktu yg ada, melupakan waktu yang lalu, menjaga waktu yang kini, dan berusaha mendapatkan waktu yang nanti seutuhnya.

waktu yang berjalan cepat, atau kita yang berusaha melambatkan waktu’? hmmm, waktu akan berjalan dengan semestinya, waktu adalah sesuatu yang pasti, tanpa pernah bisa buat berhenti, layaknya umur kita yang bertambah semakin udzur, ga mungkin kita mundur untuk menghindar, menjadi tua adalah suatu kepastian, namun mungkin menjadi dewasa, itu masi menjadi pilihan!!

lalu bagaimana dengan g’? apakah g masuk dalam kategori tua’? ga juga sih, kategori dewasa’? huh, ntah, g ga bisa menilai karena kapasitas g ga sampe untuk kesitu! buat menilai diri g sendiri g belum mampu, bukan ga bisa, tapi belum cukup ilmu buat menilai diri, apakah g termasuk kedalam manusia yang dewasa atau ga,. kalu menjadi manusia yang tua’? ap g juga bisa menilai’? haha, itu lebih sembrono lage kalu sampe g berani, g ga bisa menilai apakah g bisa menjadi tua, tapi g cuma bisa berharap kalu g mau hidup sampei g tua!

masi banyak yang belum g punya kalu g mati di saat muda, masi banyak ilmu yang belum g pelajarin kalu g mati terlalu dini,. menurut tolstoy : “Kebahagiaan besar seorang manusia adalah masa tua.” inilah satu dari sekian banyak spirit yang g minta dan perjuangin setiap g doa, kalu g mau hidup sampe tua, dalam keadaan yang beriman dan taqwa pastinya. namun hal itu bersebrangan bagi filsuf  Nietzche yang bilang: “Hidup termalang dan terlaknat justru umur yang melesat sampai tua.” ntah maksutnya apa, kalu pun buat g ada benernya juga, makin tua g, bakalan makin banyak dosa,, hahaha., bijiii daah! catatan filsuf yang terakhir justru bikin g teringat akan coretan paragraf almarhum temen g, di dalam kata2nya dy mengutip dari sebuah cerita lain yang berisikan, “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda.”

beruntung apa ga, menurut g, semuanya dapat kita tentukan dari diri kita sendiri, yaitu sehebat apa kita memaksimalkan waktu!

seberapa lama waktu juga bisa di tentukan bila kita menghitung jarak! yups jarak! jarak adalah musuh yang sesungguhnya di balik dominasi waktu dalam hidup g,. ini adalah keluhan hati sebenernya, dimana jarak yang memisahkan g dengan bintang, memang layaknya antara g dan bintang memang berjarak, mengingat tempat g dan bintang itu memang berbeda, bintang di langit dan g ntah dimana, bisa di rumah, di atas bukit atau bahkan merayap di balik septiteng! wherever lah, dulu g berjuang mendapatkan bintang, disaat g berada pada titik yang terdekat dengan bintang, namun sayang waktunya hanyalah sementara, dan sayangnya juga g gtw kalu itu bakal menjadi sementara, dan terbukti, g merasakan penyesalan di bagian akhir, karena disaat g dan bintang lagi berdekat jarak, g ga memaksimalkan waktu yang ada,. sekali lagi waktu!! hadeeeuh kamu dasar waktu!!

sekarang g dan bintang kembali berjauhan, kembali berjarak, jarak, jarak, jarak, jarak, jarak, sampe bosen karena ini selalu menjadi masalah antara g dan bintang. menurut buku cerita sebuah blog ternama, di situ ad sebuah cerita yang sebenernya bikin g memiliki semangat dan seharusnya tidak terlalu mempermasalahkan suatu masalah yang berjudul jarak tadi, dimana antara dua insan yang memadu kasih, mereka berjarak sangat jauh, bukan cuma beda kota tapi beda negara dan beda benua! mereka bilang apakah antara satu sama lainya bisa melihat bulan, dan keduanya menjawab dengan jawaban yang sama, “iya aku melihat bulan” bagi mereka bulan adalah patokan untuk selalu merasakan bahwa jarak masi pantas untuk di lawan, di tentang, di laporin, di teriakin maling, dan dituduh masi menyembah berhala!! (appaaa sihhh!??!?!) bagi mereka, selamanya masi tetep tanpa jarak, karena sejauh mana mereka kepisah, tetapi mereka masi bisa melihat benda yang sama! so mereka beranggapan kalu mereka masih berdekatan, karena meraka masih bisa melihat bulan yang sama!.

harusnya dongeng tentang bulan diatas bisa g aplikasikan dalam cerita dua hati antara g dan bintang!  selama g dan bintang masi bisa melihat bulan yang sama, maka selama itu juga jarak ga terlalu menjadi masalah buat g! kalu satu diantara kita bulannya dateng terlambat gimana’? hmmm mungkin bulan dateng terlambat cuma buat bintang, bukan buat g, karena g juga bakal panik meraung meraung sambil garuk2 aspal, kalu kejadianya ada di pihak g, g terlambat datang bulaan!!! aaarrrggghhttt tidaaaak!!!!

“plentung!!” bunyi notifikasi dari bb g udah berdering sering, pertanda bintang mulai berpulang, bertanda buat g untuk kembali bercengkrama sebagai jadwal tetap setiap malam, g harus cepet2 telepon bintang, untuk menanyakan sesuatu yang sama seperti buku yang g baca,

“haloooo.. assalamualaikum, heiii bintang’? kamu disana ngliat bulan ga??”

^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s