Resonansi Butir Hujan

musim setelah kemarau

“hujan, memiliki kemampuan menghipnotis manusia untuk mengingat masa yang udah lewat, dan hujan juga mampu membawa manusia mengingat  masa yang udah lalu,karena di dalam hujan, terdapat lagu yang hanya bisa di dengar oleh mereka yang sedang merasakan rindu”.

Angin berhembus semilir kencang, mempercikan butiran-butiran tampias hujan di halaman kantor sore tadi, ini hujan yang kesekian kalinya di langit Jakarta, ini hujan di luar hitungan jemari dari kedua tangan g. Dan malam ini Jakarta makin gelap, Jakarta masi mendung, dan masi terlalu susah untuk mengharapkan ratu malam muncul dengan serdadu bintangnya, ini musim setelah kemarau, ini musim yang semakin memberatkan g, bukan karena tertundanya jam makan siang dan waktu pulang kantor yang ngaret akibat serbuan pasukan hujan, tapi juga musim dimana g semakin berat untuk melihat bulan.

Ini adalah musim penghujan, mungkin ini masa dimana g sulit untuk melihat bulan, dan hubungan g juga cenderung kurang komunikasi, mugkin karena satu diantara kita berdua ga bisa melihat bulan, mungkin cuma dy yang bisa ngliat, tanpa g bisa memandang jelas karena padetnya awan kelabu di langit Jakarta dua minggu belakangan ini. Padahal bulan adalah senjata krusial buat injeksi otak bahwa kita adalah dua hati tanpa jarak, tapi sayang, yang ada hanya gumpalan awan gelap, tanpa kemilau bulan, dan tanpa gemerlap bintang.

Berpikir ekstra keras, bagaimana caranya agar g bisa merasakan sesuatu yang lebih baik lage daripada yang sekarang, yang jelas g perlu bulan, karena tanpa bulan malam semakin gelap, dan tanpa bias dari cahaya bulan, bintang pun sulit untuk terlihat. intinya, tanpa bulan berarti g tanpa bintang.

Hujan tidak hanya merepotkan sebagian banyak orang yang mengeluh tentang pakaian mereka yang tidak berkunjung kering setelah di cuci, atau keluhan tentang hujan yang menyebabkan kemacetan jauh lebih panjang dan merayap lagi di jalanan ibu kota ini, tapi efek hujan juga meresonansikan keadaan yang membuat dua hati ini jadi sulit berkomunikasi, karena satu diantara kita berdua, yaitu sayah! Sulit untuk melihat bulan!!.

Petrichor Effect

Mumpung hujan masi deras, g harus tau, apa itu hujan? kenapa hujan? dan ada apa di balik hujan? Hujan hari ini ga cuma sekedar hujan, hujan ini datang beriringan dengan semilir angin yang berhembus kencang, ada sesuatu di balik hujan, dan para ilmuwan pun juga berkata demikian samanya dengan g, hujan memiliki kemampuan menghipnotis manusia  untuk mengingat masa yang udah lewat, hujan juga mampu membawa manusia mengingat  masa yang udah lalu, karena di dalam hujan, terdapat lagu yang hanya bisa di dengar oleh mereka yang sedang merasakan rindu.

kini Hujan mulai merintik, mereda hujan hampir usai, petrichor ini mulai mengusik, mendengus harum indera penciuman g, aroma khas yang keluar dari tanah ataupun rerumputan kembali menyadarkan g untuk selalu tersenyum, meskipun malam g hari ini kembali tanpa bulan. karena setelah hujan mereda nanti, g bakal punya pelangi sebagai injeksi hati, dengan harmonisasi 7 warna pelangi yang menawan. dan Irama hujan ini mampu mendendangkan melodi yang terdengar merdu. itulah sesuatu yang berada di dalam hujan, inilah sesuatu yang bisa g rasain walaupun tanpa adanya bulan,

injeksi tujuh warna

Mungkin itulah kelebihanya, mungkin pelangi tadi lah yang bisa g maksimalkan sebagai injeksi otak g, supaya g tetap mampu bersugesti tentang kehidupan dua hati yang tanpa jarak. Tentang adanya sesuatu di balik hujan, yaitu melodi merdu dari sebuah lagu yang hanya bisa di dengar oleh mereka yang sedang merasakan rindu.

miss u’r luve hun ^_^

under the rain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s