sebotol keluh yang disebut rindu

:: waktu yang itu ::

Langit diluar masi mendung, tetesan air masih menitik dengan ritme teratur dari jemari pagar di depan rumah, jalanan masi basah, masi jelas memantulkan bayangan dri jernihnya air yang menggenang, masi tampak jelas sisa2 hujan yang mengguyur dgn derasnya barusan tadi. pria itu masi tetap terpaku, menikmati semeriwing angin yg berhembus dri balik jendela dimana dy berpijak,. dy masi cemberut dengan sisa kejengkelan atas wanita yang barusan!

Dy berpikir, “jika aku mengeluh maka dy akan selalu me-salaharti-kan setiap kalimat yang aku ucapkan!” dy masi bimbang, cara lain coba dy raih, gimana cara agar si wanita tadi mengerti dan memahami ap yang jadi ganjalan bagi hatinya,. “ini hanyalah masalah biasa, tapi sayang egois ga pernah bisa aku tolerir!” ujarnya dalam hati.

Angin kembali berhembus, membawa sedikit “dingin” buat hatinya yang masi merasakan jengkel edan-edanan’! masi sibuk dengan sebatang rokoknya yang hanya tinggal setengah, masi menggerutu dengan asap yang berhembus bersamaan dari dalam mulutnya.

Suara ombak menderu terdengar dari kejauhan, tapi sayangnya masi kalah berisik dengan jeritan hati karena kebimbanganya tadi, dy menuliskan kertas lusuh yang dy pungut dari atas lemari panjang persis di sebelah dy berpijak, pria itu menulis dengan malasnya, seolah-olah dy sendiri tidak mengerti ap yang dy maksut, perasaan yang di rasakan secara bersamaan dengan gerakan pinsil tumpul yang dy raih sesaat sebelum dy membakar rokok ke empatnya saat itu., sejenak pinsil itu berhenti menari, tangan kirinya meraih botol soda dan menenggaknya hingga pria tersebut bersendawa, 3 detik kemudian dy bergegas sambil membawa kertas lusuhny tadi, dengan rokok yang masi mesra menempel erat di antara kedua bibirya, dengan botol soda yang dy genggam seolah2 itulah piala atas penghargaan rasa emosi yg dy menangkan hari ini, dy berjalan menuju hamparan pasir putih di belakang rumah, menjadi batas antara gema gemuruh desiran ombak, dan senandung genderang emosi di dalem hatinya, dy terduduk menjengkang dengan lemahnya ambruk di gundukan pasir yang menjulang lumayan tinggi melebihi kepalanya, dy melihat kertas dengan isapan panjang pada rokoknya, berhembus tebal seperti kabut, menutupi wajahnya sesaat dari pandangan mata laut yang menantang garang di depannya,.

Rokoknya sudah mati, rasa kering di tenggorkannya membuat dy beringas menenggak habis hingga ketetes yang terakhir minuman sodanya, hanya meninggalkan sisa kosong yg mungkin menjadi sampah di pantai ini. “kriiiiiingg…kriiiinngg..” memecah keheningan, dy segera mengangkat telepon genggamnya dan tampak serius berujar dengan wanita di seberang HP-nya. sesaat setelah dy selesai berbicara, kembali telepon genggam itu masuk kandang di balik jaket kain yang dy kenakan. pria itu berdiri, mengambil nafas panjang sambil membersihkan celananya dari keroyokan  butir pasir yang menempel di celana jeans sobeknya. dy mengambil botol kosong bekas soda tadi, dan memasukan kertas lusuh tadi kedalamnya, dy berujar dalam hati, “mungkin tak perlu aku mengingat lebih lama, biarkan ini jadi sampah, dan apabila aku kembali, botol ini masi disini lengkap dengan keluhan yang ku tulis tadi, maka aku akan membiarkanya untuk terus dan selalu ad di sini, sampai ad yang membacanya, ga perlu sampai di pahami tapi minimal dy tau ap yang aku rasakan”. kalu pun cuma sehembus angin, tapi pria itu berharap  angin tersebut membawa ap yang dy tulis, smpe ad yg tau ap yg dia rasakan saat itu.

 

sebotol keluh!!

“kenapa selalu salah komunikasi’? kenapa ga pernah bisa coba buat sedikit mengerti’? aku di sini juga punya perasaan butuh, aku di sini juga mau di ngertiin!!! satu kesalahan aku, kamu anggep aku salah besar, tapi banyak kesalahan hari ini kamu anggep itu cuma bagian dari kesibukan yang kamu jalanin!  simplenya kamu sebut itu “ribet!!” .

“aku cuma butuh kabar, aku ga minta kamu ad disini, dan aku juga ga pernah terlalu menuntut kamu selalu ad buat aku, tapi ak hanya minta kamu ngerti kalu aku selalu ad buat kamu! komunikasi itu penting, jadi anggep aku ada! itu aja!!

:: waktu yang ini ::

Dan berselang waktu di depan terus berdatang, Sekarang pria tadi telah terduduk lemah di tempat yang sama, berhadap congkak searah dengan ombak, jemarinya terus menari memetik merdu senar gitar yang klasik.

Suaranya dalam, bernyanyi lantang seolah meminta, bersenandung tajam seolah dy memohon sesuatu yang dy mau. Ini masi jadi tempat favorit bagi dy dan dirinya, mendesir bingar ombak menebur, bersaut nada dengan lentingan gitar dan angin yang bersiul kencang.

dua warna memecah penglihatannya, antara hamparan pasir yang putih dan laut yang membiru dengan buih yang silih berganti menghempas daratan, “hei, botol itu masi ada!”, katanya dalam hati. Selang sedua detik dy berdiri, melangkah menghempaskan butiran pasir terjatuh menjauh dari dy dan gitarnya, menjulur, merunduk hampir membungkuk dy meraih botol yang terbenam setengah di dalam pasir yang hangat.

Berucap perlahan dengan tipisnya senyum dy bergumam, “hmm, masi lengkap, masi sama belum berubah, ini masi sebotol keluh!. Dy genggam botol tadi sama seperti dulu, dy menjauh melangkah menuju tempat sebelumnya, dy taruh gitarnya terlentang di hadapannya, bertumpu lutut dy membuka tutup pada botolnya, dy balikan botol itu sampai kertas kusut itu bergeser keluar terjatuh ke tangan dy yg satu, Dy buka sepenggal keluh yang pernah dy nyanyikan, dy baca tiap bait gelisah hati yang pernah dy dendangkan dulu.

Kepalanya tegak, semakin mendongak dy memandang langit, matanya bergetar seolah bicara, dy menghela nafas dengan panjang, kemudian dy menunduk  membuang pandangannya kembali ke permukaan kertas yang kusam hampir memudar. Dy berdiri, melangkah dengan cepat menuju ke arah rumah, berselang dy sudah berdiri di tepi meja tulis, dy meraih pinsil tumpul kelabu dari balik kertas yang berserakan, dan kini dy meraih kursi di belakangnya, terduduk, dan nampak sibuk merogoh kantung celana bagian yang belakang, dy memungut sebatang rokoknya, dy percikan api membakar pasti ujung batangnya, asap itu seolah menari menghibur hati, menatap kosong seakan dy tau apa yg dy pikirkan sekarang, sekali lage pinsil itu menari di atas kertas dansa yang sama, tanpa jeda pria itu tetap merunduk menggores kertas yang sama di lain sisi.

menghela nafas dy buang dengan panjangnya, kembali tegak tanpa pernah matany berhenti memandang. Dy berdiri meraih ap yang dy lukiskan, berjalan keluar kembali ke belakang rumahnya, dy  berlari kecil menuju tempat yang lalu, dy raih botol yang bersandar di balik gitar, kembali dy masukan kertas keluh masuk ke dalam botol yang lama, bicara dalam hatinya pria tadi berujar,

“Sekali lage, mungkin tak perlu aku mengingatny lebih lama, biarkan ini jadi sampah, dan apabila aku kembali, botol ini masi disini lengkap dengan keluhan yang ku tulis tadi, maka aku akan membiarkanya untuk terus dan selalu ad di sini, sampai ad yang membacanya, ga perlu sampai di pahami tapi minimal dy tau ap yang aku rasakan, sampai ad yang tau, bahwa ada sesuatu yang tergores di kertas yang sama di sisi sebaliknya.”

“sesuatu tentang lagu yang aku nyanyikan, sesuatu tentang harapan di masa yg nanti, sesuatu yang berarti kehilangan di masa yang sekarang, di satu sisi aku mengeluh, di satu waktu aku bilang itu egois, tapi di satu tempat di balik hati, aku sebut itu rindu!”

kalu pun cuma sehembus angin, tapi pria itu berharap  angin tersebut membawa ap yang dy tulis, smpe ad yg tau ap yg dia rasakan saat itu.

As days go by, and fade to nights
I still question, why you left
I wonder how, it didn�t work out
but now you�re gone, and memories all I have for now
but no it�s not over we�ll get older we�ll get over
we�ll live to see the day that I hope for
come back to me, I still believe that
we�ll get it right again, we�ll come back to life again
we won�t say another goodbye again, you�ll live forever with me..
someday, someday we�ll be together
someday, someday we�ll be together
I heard someday, might be today
mysteries of destinies they
are somehow and are someway
for all we know they come tomorrow
for today my eyes are open
my arms are raised for your embrace
my hands are here to mend what is broken
to feel again the warmth of your face
I believe there is more to life
oh I love you much more than life
and still I believe I can change your mind
revive what is dying inside
and someday, someday we�ll be together
someday, someday we�ll be together
someday, someday we�ll be together
we�ll be together we�ll be together
someday…

someday, somehow, someway, and somewhere only we know…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s