Saya, Dia Perempuan dan sherawati.

Ini cerita Tentang 20 tahun.. dari lw dulu gendut sampe sekarang ya masi gembrot juga!

Sahabat 20 tahun, dari lw marah sama gue gara2 batu di kolam renang, sampe berenti marah gara2 tau gue jatoh dari becak! faaak!! ūüėāūüėā

20 tahun dimulai dari lw ngajakin gue batal puasa makan es campur pake batik alazhar.

sampe lw kasiin nomer handphone gue ke semua cowo yang ngajakin lw kenalan di media sosial. Brengsek!! ūüė§ūüė§

Tapi selama 20 tahun biar lw jahat sama gue, tapi gue ga pernah berenti doain lw, semoga lancar sampe harinya, semoga langgeng sampe tua, semoga lw panjang umur sepanjang2nya, sampe yang lain udah pada ga ada, tinggal lw doang yang masi idup ra (doa gue sama gitu terus ra). Bahahha

Lw inget baek2 nih, Pintu rumah gue selalu terbuka buat lw ra, tapi tolong bayar gocap dlu. – with OPchitraūüíÄūüíÄ, @sherawati, and Belum Punya Path

View on Path

Dia adalah..

“dia pernah muncul sementara waktu, dia pernah singgah diantara pencarian yang tertunda, dia hilang karena terluka, dia pergi membawa caci, dia lari di gores maki. “
 
‚Äúdia menulis angka di tanggal yang sama, dia menelan tanya yang terjawab dusta, dia kabut saat benderang, dia gulita saat senja belum menyapa.‚ÄĚ
 
‚Äúdia masa yang lewat, dia masa yang sementara, dia masa yang pernah di perjuangkan, dia adalah hitam yang belum putih, dia adalah masa yang abu abu, dia adalah masa yang lalu.‚ÄĚ
 
‚Äúdia sesuatu yang sebenernya baik, tapi dia bukan masa untuk yang sekarang, ini adalah yg terbaik!.. buat saya..dan semoga juga buat dia masa yang lewat. : )‚ÄĚ
 
“itu angka empat dengan satuan tahun mundur kebelakang, itu masa yang lalu & itu  berakhir sendu , tapi sekarang saya melihat dgn tersenyum : ) “

Listen

:: irama ::

Semakin malem, semakin hening, semakin sepi, semakin senyap dari kehidupan, tapi pernah mencoba sebentar sajakah kita untuk berdiam, tanpa perlu memperhatikan, tetapi hanya untuk mendengarkan!

Mulai dari dengkuran, suara bantingan khas domino, suara tertawa tetangga sebelah, suara motor lewat, suara cicak bersautan, suara kipas yang menderu ganas, sampe suara jemari yang sibuk menari diatas keyboard, berpadu dengan suara gemelutuk setiap tuts yang ditekan, seolah menciptakan sebuah irama merdu, yang melebur menjadi tulisan ini, dan ini hanya bisa dinikmati sama diri guwe sendiri,.

Beberapa kata dan kalimat guwe comot dari sebuah film, dengan quote yang ‘bergoyang’ menurut guwe, dengan sebentar saja berdiam untuk mendengarkan suara di sekitar kita, maka ad benernya, kalu disitu dy bilang bahwa Semua orang memiliki ritme dan semua orang memiliki irama!. jangan diperhatikan, tetapi dengarkan! Mulai dari detak jantung, desah nafas, derap langkah, sampai bersin pun buat guwe adalah nada.

Dan sebagai contoh lainnya adalah menari, karena bagi mereka kebanyakan, menari adalah untuk menjadi diri mereka sendiri, dan lagu adalah media penghubung untuk menjadi seperti yang mereka mau, dan ga bisa lage di tolak keberadaanya bahwa emang lagu atau musik, can make the people come together!! Nyanyi bersama, joget bersama, sedih bersama, seneng bersama, susah bersama, gila bersama, tidur bersama, mandi bersama, dan 2 kebersamaan yang terakhir tadi bukan jadi lagu buat guwe.

Bicara tentang lagu dan sangkut paut bahwa semua orang punya irama, mungkin sangat menyenangkan, disaat kita tau, bahwa guwe, dia, mereka, atau kita, yang dimana antara satu dengan yang lainnya terhubung dengan lagu yg sama. Contoh, Lagu sendu, jadi lagu wajib buat yg sama2 galau *eeaaaa!! Lagu cinta, jadi lagu kebangsaan buat mereka yang lage dimabuk rasa berjudul asmara *eeaaaa!! Atau lagu dangdut buat mereka yang hobi bergoyang, atau hiphop dan er en beh, yang ga jauh beda dengan biduan dangdut yang mampu meleburkan tarian dengan irama menjadi gerakan katatonik yang unik! *eaaaa! Ap jeh maksa! *eaaaa! *eaaaa! *eaaaa!

Jika orang bisa terhubung dengan lagu yang sama, lalu antara guwe dan si dia, ap juga terhubung dengan perasaan dan pemikiran yang sama? Buat guwe untuk sementara ini adalah tidak dalam bentuk huruf kapital! Ada ketakutan, dan kekhawatiran yang wajar, ada keraguan dan ketidakpastian yang masuk akal,. Tapi guwe punya alesan, dan guwe tetep pada jalurnya, biar guwe lakuin pake cara guwe sendiri, karena guwe tau apa yang sedang guwe kerjakan!

Banyak cerita dari setiap baitnya, banyak kenangan yang di maafkan tanpa perlu dilupakan, banyak sesuatu yang terjadi yang dateng tanpa undangan di keluarga ini. semuanya guwe coba lewatin tanpa harus untuk berkeluh, dan tanpa juga harus berkesah, ini ritme dalam hidup, ini irama dalam cerita keseharian, ini penderitaan yang sengaja dibiarkan untuk terus dan terus berdendang, ini perasaan yang ga cukup kuat membunuh sesuatu yang guwe punya terhadap keyakinan guwe.

Ini mungkin optimis yang berlebihan, ini mungkin denting emosi yang diluar kapasitas kewajaran, tapi ini adalah keyakinan yang bikin guwe bisa selalu merasa kuat selama ini,  karena ini adalah lagu tentang perasaan guwe yang ga pernah salah, dan juga ga pernah mati, ini adalah perasaan guwe yang ga akan pernah bisa kamu liat, tetapi cuma bisa kamu rasakan.

ini adalah keyakinan dengan judul sekata sayang.

Terlalu banyak lirik kalu dipakai untuk menjelaskan, terlalu banyak nada minor kalu dipakai untuk menerangkan, dan sudah terlalu panjang durasi dari lagu galau yang setiap hari nyaring berkumandang buat guwe. Mau sampai kapan? Sampai lagu itu bosan di dengar, sampai semuanya tereliminasi basi di tangga chart hati setiap menitnya.
Sampai nanti kalu guwe berdesah hati tanda kelelahan.

– Goodbye and Goodnight –

s a m a

ini adalah cerita untuk momen yang sama, tanggal yang sama, kisah yang sama, dan sesuatu yang kembali berulang…

g pernah ad di masa sulit dimana waktu itu g nyari tw kemana2 tentang cara bagaimana menghapus bintang dari langit, sampe semuanya bisa g hapus, kecuali satu! yg g inget tinggal satu bintang ajah sisanya, dy pernah jadi bintang yg terang! kemudian redup, hampir terpejam! tapi dy ga pernah mati dan terlelap! dy tetap bersinar ala kadarnya! sampe sekarang! dy adalah sisa bintang terakhir yg belum g hapus waktu itu, tapi makin lama keyakinan g makin menjadi2! g coba ambil keputusan buat membuang bintang tuk kesekian kali! bintang ini udah g coba buang! di buang buat yg kesekian kali!!!

buang bintang dan buang hati

 

g buang dy di suatu wadah, di sebuah tempat yg udah g setting dimana pun g berdiri, g tetep bisa ngliat wadah itu,  wadah yg ga boleh terhalang apapun waktu g nengok ke belakang! wadah itu adalah tempat g ngbuang bintang! ternyata setiap g nengok dy masi ajah bersinar, belum mati, masi terang belum berujung jadi pekat berubah gelap!

ternyata lagi2 g hampir merasa gagal membuang bintang! kesalahan g! kenapa bintangnya g buang’? padahal seharunya g hapus!! kalu g buang bintang berarti g juga harus ngbuang hati g semuanya! tapi kalu g cuma nghapus bintang, mungkin hati g masi ad, cuma sebagian memorinya ajah yg ilang ikut ke hapus barengan ma bintang!

yang jelas hari ini bintangnya makin bersinar, makin bertambah terang, makin berkilau, makin matang karena kedewasaan, so makin pantas kah bintang buat di perjuangkan’? pantes bgd! tapi bukan sama g! karena justru g yg ga pantes jadi pejuang demi bintang!

starlite

heppy bezday Bintang

wish u all dbest, ¬†have aSparklin’Ly special life , and GOD always bless u

– ever after –

 

sebotol keluh yang disebut rindu

:: Waktu Yang Itu ::

Langit di luar masih mendung, tetesan air masih menitik dengan ritme teratur, menetes, mengalir pada jemari pagar di depan rumah. Jalanan masih basah, masih dengan jelasnya memantulkan bayangan dari jernihnya air yang menggenang. Masih tampak jelas sisa-sisa hujan yang mengguyur dengan derasnya barusan tadi. Pria itu masih tetap terpaku, menikmati semriwing angin yang berhembus dari balik jendela dimana dia berpijak. Dia masih cemberut dengan sisa kejengkelan atas wanita yang barusan!

Dia¬†berpikir, ‚ÄúJika¬†aku mengeluh maka dia¬†akan selalu me-salah arti-kan setiap kalimat yang aku ucapkan!‚ÄĚ Dia masih bimbang, cara lain coba dia raih, bagaimana¬†cara agar si wanita tadi mengerti dan mampu untuk memahami, apa yang yang selama ini menjadi ganjalan bagi hatinya. ‚ÄúIni hanyalah masalah biasa, tapi sayang, egois ga pernah bisa aku tolerir!‚ÄĚ ujarnya dalam hati.

Angin kembali berhembus, membawa sedikit dingin buat hatinya yang masih merasakan jengkel edan-edanan!. Masih tetap sibuk dengan sebatang rokoknya yang hanya tinggal setengah, masih menggerutu dengan asap yang berhembus bersamaan dari dalam mulutnya.

Suara ombak menderu, terdengar dari kejauhan. Tapi masih kalah berisik dengan jeritan hati karena kebimbanganya. Dia menulis pada secarik kertas yang lusuh, lembar yang dia pungut dari atas lemari, yang memanjang persis di sebelah dia berdiri. Pria itu menulis dengan malasnya, seolah-olah dia sendiri tidak mengerti apa yang dia maksud. Perasaan yang dia rasakan, bersamaan dengan gerakan pensil tumpul yang dia raih sesaat sebelum dia membakar rokok ke-empatnya saat itu. Sejenak pensil itu berhenti menari, tangan kirinya meraih botol soda dan menenggaknya, terus dan terus hingga dia bersendawa. Tiga detik kemudian dia bergegas sambil membawa kertas lusuhnya, dengan rokok yang masih mesra menempel erat diantara kedua bibirnya, dengan botol soda yang dia genggam erat, seolah-olah itulah piala atas penghargaan dari rasa emosi yg dia menangkan hari ini. Dia berjalan menuju hamparan pasir putih di belakang rumah, menjadi batas antara gema dari gemuruh desiran ombak dan juga senandung genderang emosi di dalam hatinya. Dia terduduk menjengkang, dengan lemahnya ambruk di gundukan pasir yang menjulang tinggi melebihi kepalanya. Dia melihat kertas itu dengan isapan panjang pada rokoknya, berhembus tebal seperti kabut, menutupi wajahnya sesaat dari pandangan mata laut yang menantang garang di depannya.

Rokoknya sudah mati, rasa kering di tenggorkannya membuat dia¬†beringas menenggak habis hingga ketetes yang terakhir. Hanya¬†meninggalkan sisa kosong dalam botol, yang mungkin akan menjadi sampah di pantai ini. kriiiiiingg‚Ķkriiiinngg..‚ÄĚ suaranya nyaring memecah keheningan, “ah, ternyata dia”.¬†Sambil melihat nama yang tertera dilayar handphonenya.¬†Dia segera mengangkat telepon genggamnya, sejenak serius berujar dengan lawan bicara di balik telepon genggam. Sesaat setelahnya, terdiam sejenak sambil menatap kosong kelayar handphone, tak lama berselang, kembali telepon genggam itu masuk kandang di balik jaket kain yang dia¬†kenakan. Pria¬†itu berdiri, mengambil nafas panjang, sambil membersihkan celananya dari keroyokan butir pasir yang menempel di celana jeans sobeknya. Dia¬†mengambil botol kosong bekas soda dan memasukan kertas lusuh tadi kedalamnya. Dia berujar dalam hati, ‚Äúmungkin tak perlu aku mengingat lebih lama, biarkan ini menjadi¬†sampah. Dan apabila aku kembali, botol ini masih¬†disini, lengkap dengan keluhan yang aku¬†tulis tadi. Maka aku akan membiarkanya untuk terus di sini dan selalu ada di sini. Sampai¬†ada yang membacanya, ga perlu sampai dipahami, tapi minimal dia tau apa yang aku rasakan‚ÄĚ.¬†Kalau pun cuma sehembus angin, tapi pria itu berharap, angin tersebut membawa apa¬†yang dia¬†tulis. Sampai¬†ada yang tau, apa yang¬†dia rasakan saat itu.

:: Sebotol Keluh ::

‚ÄúKenapa¬†selalu salah komunikasi?”. “Kenapa¬†ga pernah bisa coba buat sedikit mengerti?”. “Aku¬†di sini juga punya perasaan butuh, aku di sini juga mau dingertiin!!!”. ” Satu¬†kesalahan aku, kamu anggap¬†aku salah besar, tapi banyak kesalahan kamu hari ini, ¬†kamu anggap¬†itu cuma bagian dari kesibukan yang kamu jalanin!”. ” Simplenya kamu sebut itu ‚Äúribet!!‚ÄĚ .

‚ÄúAku cuma butuh kabar, aku ga minta kamu ada¬†disini”. “Dan aku juga ga pernah terlalu menuntut kamu selalu ada¬†buat aku, tapi aku hanya minta kamu ngerti, kalau aku selalu ada buat kamu!”. “Komunikasi itu penting, jadi anggep aku ada! itu aja!!‚Äú.

:: Waktu Yang Ini ::

Dan berselang waktu di depan terus berdatang. Sekarang, pria itu telah terduduk lemah di tempat yang sama. Berhadap congkak searah dengan ombak, jemarinya terus menari, memetik merdu senar gitar yang klasik.

Suaranya dalam, bernyanyi lantang seolah meminta, bersenandung tajam seolah dia memohon sesuatu yang dia mau. Ini masih jadi tempat favorit bagi dia dan dirinya. Mendesir bingar ombak menebur, bersaut nada dengan lentingan gitar dan angin yang bersiul kencang.

Dua¬†warna memecah penglihatannya, antara hamparan pasir yang putih dan laut yang membiru dengan buih yang silih berganti menjalar menghempas daratan.¬†“Hei, botol itu masih¬†ada!”, katanya dalam hati. Selang sedua detik dia berdiri, melangkah menghempaskan butiran pasir yang terjatuh menjauh dari dia¬†dan gitarnya. Menjulur, merunduk hampir membungkuk, dia meraih botol yang hampir terbenam¬†masuk ke dalam pasir yang hangat.

Berucap perlahan, dengan tipisnya senyum dia bergumam, “Hmm, masih¬†lengkap, masih sama belum berubah, ini masih¬†sebotol keluh!. Dia¬†genggam botol tadi sama seperti dulu, dia¬†menjauh semakin melangkah,¬†menuju tempat dia yang sebelumnya. Dia taruh gitarnya terlentang dihadapannya. Bertumpu lutut dia perhatikan isi dari botolnya,¬†dia balikan sambil mengguncang,¬†sampai kertas kusut itu bergeser keluar terjatuh ke tangan dia yang satu. Dia buka sepenggal keluh yang pernah dia nyanyikan, dia baca tiap bait gelisah hati yang pernah dia¬†dendangkan dulu.

Kepalanya tegak, semakin mendongak dia memandang langit. Matanya bergetar, seolah bicara. Dia menghela nafas panjang, kemudian dia menunduk  membuang pandangannya kembali ke permukaan kertas yang kusam hampir memudar. Dia berdiri, melangkah dengan cepat menuju ke arah rumah. Tanpa memakan waktu, kini dia berdiri di tepi meja, tempat dimana ia biasa menulis. dia meraih pensil tumpul kelabu dari balik kertas yang berserakan, dan kini dia meraih kursi dibelakangnya, terduduk, dan nampak sibuk merogoh kantung celana bagian belakang. Dia memungut sebatang rokoknya, dia percikan api sampai membakar pasti ujung batangnya. Asap itu seolah menari menghibur hati, menatap kosong seakan dia tau apa yg sedang dia pikirkan sekarang. Sekali lagi, pensil itu menari di atas kertas dansa yang sama. Tanpa jeda pria itu tetap merunduk, menggores kertas di lain sisi.

Menghela nafas dia buang dengan panjangnya, kembali tegak tanpa pernah matanya berhenti untuk memandang. Dia berdiri meraih apa yang dia lukiskan, berjalan keluar kembali ke belakang rumahnya. Dia berlari kecil menuju tempat yang lalu, dia raih botol yang bersandar di balik gitar, kembali dia masukan kertas keluh untuk kali kedua. Masuk ke dalam botol yang lama, masuk ke dalam lubang yang sama, bicara dalam hatinya pria tadi berujar,

“Sekali lagi, mungkin tak perlu aku mengingat lebih lama, biarkan ini menjadi¬†sampah. Dan apabila aku kembali, botol ini masih¬†disini, lengkap dengan keluhan yang aku¬†tulis tadi. Maka aku akan membiarkanya untuk terus di sini dan selalu ada di sini. Sampai¬†ada yang membacanya, ga perlu sampai dipahami, tapi minimal dia tau apa yang aku rasakan‚ÄĚ.¬† “Sampai ada yang tau, bahwa ada sesuatu yang tergores dikertas yang sama, ada sesuatu dengan perasaan yang berbeda di sisi sebaliknya.”

“sesuatu tentang lagu yang aku nyanyikan, sesuatu tentang harapan di masa yang¬†nanti, sesuatu yang berarti kehilangan di masa yang sekarang”. “Disatu sisi aku mengeluh, disatu waktu aku bilang itu egois, tapi disatu tempat di balik hati, aku sebut itu rindu!”.

Kalau pun cuma sehembus angin, tapi pria itu berharap  angin tersebut membawa apa yang dia tulis, sampai ada yang tau, apa yang dia rasakan saat itu.

As days go by, and fade to nights
I still question, why you left
I wonder how, it didnt work out
but now youre gone, and memories all I have for now
but no its not over well get older well get over
well live to see the day that I hope for
come back to me, I still believe that
well get it right again, well come back to life again
we wont say another goodbye again, youll live forever with me..
someday, someday well be together
someday, someday well be together
I heard someday, might be today
mysteries of destinies they
are somehow and are someway
for all we know they come tomorrow
for today my eyes are open
my arms are raised for your embrace
my hands are here to mend what is broken
to feel again the warmth of your face
I believe there is more to life
oh I love you much more than life
and still I believe I can change your mind
revive what is dying inside
and someday, someday well be together
someday, someday well be together
someday, someday well be together
well be together well be together
someday…

someday, somehow, someway, and somewhere only we know…